[Ilustrasi Anyaman Bambu – Gambar anyaman bambu dengan sentuhan artistik, mungkin produk jadi seperti tas, lampu, atau dekorasi dinding, atau tangan pengrajin yang sedang bekerja.]
Pendahuluan: Ketika Bambu Bertransformasi Menjadi Karya Seni
Di jantung Pulau Jawa, di antara hijaunya sawah dan gemuruh kehidupan pedesaan, terhampar sebuah warisan budaya yang tak hanya indah dipandang, namun juga sarat makna: kerajinan anyaman bambu. Lebih dari sekadar keterampilan tangan, anyaman bambu adalah simfoni ketekunan, kearifan lokal, dan hubungan erat manusia dengan alam. Ia adalah cerminan filosofi hidup masyarakat Jawa yang menghargai kesederhanaan, kebermanfaatan, dan keindahan dalam setiap helaan napas.
Bayangkan sebatang bambu, yang sekilas terlihat biasa, mampu bertransformasi menjadi aneka rupa benda fungsional nan artistik. Dari caping yang melindungi petani dari terik mentari, tampah yang membersihkan beras, hingga kini menjelma menjadi dekorasi modern, furnitur elegan, bahkan tas fesyen yang mendunia. Perjalanan panjang ini membuktikan bahwa anyaman bambu Jawa bukan sekadar relik masa lalu, melainkan seni yang terus beradaptasi, berinovasi, dan relevan di tengah gempuran modernisasi.
Dalam artikel ini, kita akan menyelami lebih dalam dunia anyaman bambu khas Jawa. Kita akan mengungkap sejarahnya yang kaya, memahami mengapa bambu menjadi pilihan utama, menyingkap rahasia di balik setiap jalinan benang bambu, menjelajahi ragam produknya, hingga menyoroti tantangan dan peluang yang dihadapinya di era digital ini. Mari kita bersama-sama mengapresiasi keindahan yang terlahir dari jari-jari terampil para pengrajin Jawa.
Sejarah dan Filosofi: Akar Anyaman Bambu dalam Kehidupan Jawa
Anyaman bambu bukanlah hal baru di tanah Jawa. Sejarahnya membentang jauh ke masa lampau, bahkan sebelum peradaban modern menyentuh. Masyarakat Jawa kuno, yang hidup berdampingan dengan alam, menemukan bahwa bambu adalah anugerah tak ternilai. Tumbuh melimpah, kuat, lentur, dan mudah diolah, bambu menjadi material dasar untuk hampir segala kebutuhan.
Fungsi Awal yang Praktis:
Pada mulanya, anyaman bambu lebih berfungsi sebagai alat penunjang kehidupan sehari-hari. Ia digunakan untuk membuat:
- Rumah dan Bangunan: Dinding gedek (anyaman bambu) dan atap.
- Alat Pertanian: Tampah, tenggok, alat pengangkut hasil panen.
- Wadah dan Perkakas Dapur: Besek, kukusan, keranjang, piring.
- Perlengkapan Pribadi: Caping (topi petani), tikar.
Dari kebutuhan dasar inilah, keterampilan menganyam berkembang secara turun-temurun. Setiap keluarga, bahkan setiap individu, di pedesaan Jawa kemungkinan besar memiliki kemampuan dasar menganyam.
Filosofi di Balik Jalinan:
Lebih dari sekadar fungsionalitas, anyaman bambu merefleksikan filosofi hidup masyarakat Jawa:
- Kesederhanaan dan Kebermanfaatan: Bambu adalah bahan alami yang sederhana, namun mampu diolah menjadi benda yang sangat berguna. Ini mengajarkan bahwa keindahan dan nilai tidak selalu berasal dari kemewahan, melainkan dari fungsi dan keaslian.
- Gotong Royong dan Kebersamaan: Proses pengolahan bambu dari hutan hingga menjadi anyaman seringkali melibatkan banyak tangan. Memilih bambu, membelah, menghaluskan, hingga menganyam dapat dilakukan bersama, memupuk semangat kebersamaan.
- Ketekunan dan Kesabaran: Menganyam adalah proses yang membutuhkan ketelitian, fokus, dan kesabaran tinggi. Setiap bilah bambu harus dianyam satu per satu dengan pola yang konsisten. Ini melatih jiwa untuk tidak mudah menyerah dan menghargai proses.
- Keseimbangan Alam: Penggunaan bambu yang cepat tumbuh dan ramah lingkungan juga mencerminkan kearifan lokal dalam menjaga keseimbangan alam dan memanfaatkan sumber daya secara berkelanjutan.
Dengan demikian, setiap produk anyaman bambu bukan hanya benda mati, melainkan sebuah narasi tentang kehidupan, kerja keras, dan nilai-nilai luhur yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Bambu: Bahan Baku Pilihan Hati Para Pengrajin
Mengapa bambu? Pertanyaan ini sering muncul. Jawabannya terletak pada karakteristik unik bambu yang membuatnya unggul dibandingkan material lain. Bambu bukan sekadar tanaman, ia adalah “kayu” yang menari mengikuti angin, berakar kuat, dan menyimpan potensi luar biasa.
Keunggulan Bambu sebagai Bahan Baku Anyaman:
- Kekuatan dan Kelenturan: Meskipun terlihat ramping, bambu memiliki kekuatan tarik yang luar biasa, bahkan melebihi baja untuk rasio berat tertentu. Pada saat yang sama, ia sangat lentur, mudah dibentuk, dibengkokkan, dan dianyam tanpa mudah patah.
- Pertumbuhan Cepat dan Keberlanjutan: Bambu adalah tanaman yang sangat cepat tumbuh. Beberapa jenis bambu dapat tumbuh hingga satu meter per hari! Ini menjadikannya sumber daya terbarukan yang sangat lestari dan ramah lingkungan, berbeda dengan kayu yang membutuhkan waktu puluhan tahun untuk siap panen.
- Ringan: Produk anyaman bambu cenderung ringan, memudahkan dalam penggunaan dan transportasi.
- Estetika Alami: Bambu memiliki tekstur dan warna alami yang khas, memberikan sentuhan estetika otentik dan hangat pada setiap produk.
- Multiguna: Selain untuk anyaman, bambu juga digunakan untuk konstruksi, makanan (rebung), alat musik, dan banyak lagi.
Jenis-Jenis Bambu yang Umum Digunakan di Jawa:
Tidak semua jenis bambu cocok untuk anyaman. Para pengrajin telah memilih jenis-jenis tertentu berdasarkan serat, kelenturan, dan ketahanan:
- Bambu Apus (Gigantochloa apus): Paling populer karena seratnya yang halus, lentur, dan mudah dibelah tipis. Cocok untuk anyaman yang membutuhkan detail halus dan presisi.
- Bambu Tali (Gigantochloa apus): Mirip dengan bambu apus, sering digunakan untuk mengikat atau membuat bilah anyaman yang tipis dan kuat.
- Bambu Petung (Dendrocalamus asper): Memiliki diameter besar dan dinding tebal, cocok untuk rangka anyaman yang membutuhkan kekuatan ekstra, atau produk dengan ukuran besar seperti kursi dan meja.
- Bambu Wulung (Gigantochloa atroviolacea): Memiliki warna kehitaman yang eksotis, sering digunakan untuk aksen atau produk anyaman yang ingin menonjolkan warna alami yang unik.
- Bambu Ori (Bambusa arundinacea): Cukup kuat dan seratnya padat, cocok untuk anyaman yang membutuhkan kekokohan.
Proses Pemilihan dan Persiapan Bambu:
Kualitas anyaman sangat bergantung pada kualitas bahan baku. Prosesnya pun tak sembarangan:
- Pemilihan Batang: Bambu yang dipilih haruslah yang tua dan matang (biasanya berumur 3-5 tahun), tidak terlalu muda (mudah keriput) dan tidak terlalu tua (rapuh dan mudah dimakan hama).
- Penebangan: Dilakukan dengan hati-hati agar tidak merusak rumpun bambu lainnya.
- Perendaman (Pengawetan): Batang bambu direndam dalam air mengalir selama beberapa minggu hingga beberapa bulan. Ini bertujuan untuk menghilangkan kandungan pati dan gula yang disukai serangga perusak (bubuk/rayap), sekaligus membuat serat bambu lebih lentur. Beberapa pengrajin juga menggunakan larutan pengawet alami atau kimia.
- Penjemuran: Setelah direndam, bambu dijemur hingga kering sempurna, biasanya di bawah sinar matahari langsung, untuk mencegah tumbuhnya jamur.
- Pembelahan: Bambu kemudian dibelah menjadi beberapa bagian (misalnya 4 atau 8) sesuai kebutuhan, menggunakan pisau besar atau parang.
- Penyerutan/Penipisan: Bilah-bilah bambu ini kemudian diserut menggunakan alat khusus (seperti “raut” atau pisau kecil) hingga ketebalan dan kehalusan yang diinginkan, siap untuk dianyam. Bagian kulit luar dan serat bagian dalam yang kurang kuat seringkali dibuang.
Proses persiapan ini adalah pondasi dari keindahan dan ketahanan produk anyaman. Ini menunjukkan betapa para pengrajin menghargai setiap langkah, dari memilih bahan hingga siap diolah.
Proses Pembuatan Anyaman: Dari Hati ke Jari yang Terampil
Melihat sebuah karya anyaman bambu yang sudah jadi, seringkali kita takjub dengan keindahannya. Namun, sedikit yang tahu betapa rumit dan detailnya proses di baliknya. Ini adalah seni yang lahir dari ketekunan, pengalaman, dan kepekaan rasa.
Alat-alat Sederhana, Hasil Luar Biasa:
Uniknya, untuk menciptakan karya yang memukau, para pengrajin hanya membutuhkan alat-alat yang sangat sederhana:
- Pisau atau Parang: Untuk memotong dan membelah bambu.
- Raut/Peraut: Pisau kecil khusus untuk menyerut dan menghaluskan bilah bambu.
- Palu (opsional): Untuk merapikan jalinan.
- Gunting/Pemotong: Untuk memotong sisa bilah.
- Penggaris dan Pensil: Untuk mengukur dan membuat pola (untuk produk modern).
Tahapan Menganyam yang Penuh Konsentrasi:
- Pembuatan Bilah (Sali/Pali):
Ini adalah tahap awal yang sangat penting. Bilah bambu yang sudah diserut akan dipotong sesuai ukuran dan lebar yang diinginkan. Ada bilah yang lebih lebar sebagai “lungsi” (benang vertikal pada tenun) dan bilah yang lebih tipis sebagai “pakan” (benang horizontal). Ketepatan ukuran bilah sangat memengaruhi kerapihan anyaman. - Proses Penganyaman:
Inilah inti dari kerajinan ini, di mana bilah-bilah bambu saling bertautan membentuk pola. Ada berbagai teknik dasar anyaman, yang kemudian bisa dikembangkan menjadi pola yang lebih kompleks:- Anyaman Silang Tunggal (Anyaman Sasak): Teknik paling dasar, di mana satu bilah disilangkan di atas dan di bawah bilah lainnya secara bergantian. Hasilnya adalah pola kotak-kotak sederhana. Cocok untuk tikar atau dinding gedek.
- Anyaman Silang Ganda (Anyaman Kepang/Jari-jari): Setiap dua atau tiga bilah disilangkan bersamaan. Polanya lebih rapat dan kuat, sering digunakan untuk keranjang atau wadah.
- Anyaman Mata Itik: Menghasilkan pola lubang-lubang kecil menyerupai mata itik. Memberikan tekstur yang unik dan sering digunakan untuk dekorasi.
- Anyaman Bunga: Menggunakan bilah yang lebih tipis dan pola yang rumit untuk menciptakan motif bunga atau geometris.
- Anyaman Lilit: Memanfaatkan kelenturan bambu untuk melilit dan membentuk struktur melingkar.
Proses ini membutuhkan konsentrasi tinggi. Jari-jari pengrajin bergerak lincah, menghitung setiap bilah, memastikan kerapian dan kepadatan anyaman. Satu kesalahan kecil dapat merusak seluruh pola.
- Pembentukan dan Pembingkaian:
Setelah anyaman dasar selesai, tahap selanjutnya adalah membentuknya menjadi produk yang diinginkan, misalnya menjadi keranjang dengan dasar melingkar atau kotak, atau membentuk lengkungan untuk lampu hias. Seringkali, bagian tepi anyaman diperkuat dengan bingkai dari bambu yang lebih tebal atau bahan lain agar lebih kokoh dan rapi. - Finishing (Penyelesaian):
Tahap akhir ini menentukan tampilan akhir dan daya tahan produk:- Penghalusan: Sisa-sisa serat bambu yang mencuat dirapikan dengan pisau atau ampelas halus.
- Pewarnaan (Opsional): Beberapa produk diwarnai untuk menambah daya tarik. Pewarna bisa alami (dari daun jati, kunyit, dll.) atau sintetis. Pewarnaan alami memberikan kesan lebih tradisional dan ramah lingkungan.
- Pelapisan/Pernis: Untuk melindungi anyaman dari kelembaban, jamur, dan serangga, serta memberikan kilau, produk dilapisi dengan pernis, politur, atau lapisan pelindung lainnya. Ini juga membuat produk lebih mudah dibersihkan.
Setiap produk anyaman bambu adalah hasil dari berjam-jam kerja keras, kesabaran, dan dedikasi. Ia adalah karya seni yang mencerminkan jiwa pengrajinnya.
Ragam Produk Anyaman Bambu Khas Jawa: Dari Fungsional Hingga Artistik Modern
Keindahan anyaman bambu terletak pada keberagamannya. Dari alat rumah tangga sederhana hingga furnitur mewah, bambu mampu bertransformasi menjadi berbagai wujud, memenuhi kebutuhan dan selera yang berbeda.
Produk Fungsional Tradisional:
Ini adalah produk-produk yang telah lama menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Jawa:
- Caping: Topi kerucut khas petani, melindungi dari sengatan matahari dan hujan.
- Tampah: Nampan bundar besar untuk membersihkan beras (menampi), menjemur, atau wadah seserahan.
- Tenggok/Ranjang: Keranjang besar untuk mengangkut hasil panen atau barang dagangan.
- Besek: Kotak kecil anyaman bambu berpenutup, sering digunakan sebagai wadah makanan hantaran atau jajanan pasar, kini populer sebagai kemasan ramah lingkungan.
- Kukusan: Alat pengukus makanan tradisional, seperti nasi tumpeng atau kue-kue.
- Nampan dan Piring Saji: Digunakan untuk menyajikan hidangan dengan sentuhan tradisional.
- Boboko: Bakul nasi khas Sunda, namun juga banyak digunakan di Jawa.
- Rantang Bambu: Wadah makanan bertingkat.
Produk Dekoratif dan Artistik:
Seiring perkembangan zaman, anyaman bambu tak lagi hanya soal fungsi. Ia telah naik kelas menjadi elemen dekorasi yang memikat:
- Lampu Hias: Berbagai bentuk lampu gantung, lampu meja, atau kap lampu dengan motif anyaman yang unik, menciptakan efek cahaya yang indah.
- Vas Bunga dan Pot Tanaman: Memberikan sentuhan alami pada dekorasi rumah.
- Partisi Ruangan: Pembatas ruangan yang estetik, memungkinkan sirkulasi udara dan cahaya.
- Wall Decor/Hiasan Dinding: Panel anyaman dengan motif geometris atau abstrak yang artistik.
- Kursi dan Meja Bambu: Furnitur ringan namun kuat, memberikan nuansa tropis atau etnik pada interior maupun eksterior.
- Cermin Berbingkai Anyaman: Sentuhan unik pada cermin.
- Tempat Tisu, Kotak Penyimpanan, Tempat Sampah: Dengan sentuhan anyaman, barang sehari-hari menjadi lebih menarik.
Inovasi Modern dan Fesyen:
Daya tarik anyaman bambu juga merambah dunia fesyen dan gaya hidup modern:
- Tas Anyaman Bambu: Dari clutch kecil hingga tas jinjing besar, anyaman bambu kini menjadi pilihan tas yang unik dan ramah lingkungan.
- Aksesoris: Gelang, anting, atau kalung dengan elemen anyaman bambu.
- Kemasan Ramah Lingkungan: Banyak bisnis, terutama makanan dan produk organik, beralih menggunakan kemasan besek atau kotak anyaman bambu yang dapat terurai.
- Kolaborasi Desainer: Banyak desainer interior dan fesyen berkolaborasi dengan pengrajin lokal untuk menciptakan produk anyaman bambu dengan desain kontemporer.
Setiap produk anyaman bambu, baik yang tradisional maupun modern, membawa cerita tentang keterampilan tangan, keindahan alam, dan adaptasi budaya.
Sentra-Sentra Anyaman Bambu di Jawa: Pusat Kreativitas dan Warisan
Pulau Jawa diberkahi dengan banyak sentra kerajinan anyaman bambu, yang masing-masing memiliki ciri khas dan keunggulannya sendiri. Daerah-daerah ini menjadi denyut nadi pelestarian dan pengembangan seni anyaman.
Jawa Barat:
- Tasikmalaya: Terkenal dengan kerajinan anyaman bambu yang sangat halus dan variatif. Produknya meliputi berbagai macam keranjang, wadah, furnitur, hingga dekorasi rumah tangga dengan kualitas ekspor. Motif anyaman di Tasikmalaya seringkali sangat rapi dan detail.
- Garut: Mirip dengan Tasikmalaya, Garut juga memiliki pengrajin anyaman bambu yang handal, khususnya untuk produk-produk rumah tangga dan keranjang.
- Cirebon: Dikenal dengan produk anyaman rotan dan bambu, termasuk kursi, meja, dan dekorasi yang memadukan dua material ini.
Jawa Tengah:
- Purbalingga: Merupakan salah satu sentra anyaman bambu terbesar di Jawa Tengah. Produknya sangat beragam, mulai dari caping, besek, keranjang, hingga berbagai furnitur dan hiasan. Kualitas bambu apus dari Purbalingga juga sangat baik.
- Banjarnegara: Berdekatan dengan Purbalingga, juga memiliki tradisi anyaman bambu yang kuat, khususnya untuk produk-produk fungsional dan rumah tangga.
- Klaten: Dikenal dengan kerajinan anyaman bambu untuk berbagai peralatan dapur tradisional dan hiasan.
- Magelang: Beberapa desa di Magelang juga mengembangkan anyaman bambu, terutama untuk produk dekoratif dan furnitur.
Jawa Timur:
- Blitar: Sentra anyaman bambu yang menghasilkan berbagai produk fungsional dan dekoratif, termasuk keranjang, wadah, dan hiasan dinding.
- Banyuwangi: Dengan kekayaan alamnya, Banyuwangi juga memiliki pengrajin anyaman bambu yang menghasilkan produk-produk khas daerah, seringkali dengan sentuhan etnik lokal.
Kunjungan ke sentra-sentra ini bukan hanya sekadar berbelanja, tetapi juga sebuah pengalaman edukatif. Kita bisa melihat langsung proses pembuatan, berinteraksi dengan para pengrajin, dan merasakan semangat kearifan lokal yang masih terjaga.
Tantangan dan Peluang di Era Modern: Menjaga Api Anyaman Tetap Menyala
Meskipun memiliki akar sejarah yang kuat dan potensi yang besar, kerajinan anyaman bambu khas Jawa juga menghadapi berbagai tantangan di era modern ini. Namun, di balik setiap tantangan, selalu ada peluang untuk berkembang.
Tantangan yang Dihadapi:
- Regenerasi Pengrajin: Minat generasi muda untuk menekuni kerajinan ini semakin menurun. Mereka cenderung mencari pekerjaan di sektor formal yang dianggap lebih menjanjikan secara finansial dan sosial. Ini mengancam keberlanjutan tradisi dan hilangnya pengetahuan turun-temurun.
- Persaingan dengan Produk Pabrikan: Produk massal dari plastik atau logam seringkali lebih murah dan mudah didapat, meskipun kualitas dan daya tahannya mungkin tidak sebanding.
- Pemasaran yang Terbatas: Banyak pengrajin masih mengandalkan pasar lokal atau pembeli yang datang langsung. Akses ke pasar yang lebih luas, baik nasional maupun internasional, masih terbatas.
- Desain yang Stagnan: Beberapa pengrajin masih terpaku pada desain tradisional yang mungkin kurang diminati pasar modern, sehingga sulit bersaing dengan produk impor atau desain kontemporer.
- Perubahan Selera Pasar: Konsumen modern cenderung mencari produk yang fungsional sekaligus estetik, minimalis, atau multi-fungsi.
- Isu Keberlanjutan Bahan Baku: Meskipun bambu cepat tumbuh, eksploitasi berlebihan tanpa penanaman kembali yang terencana dapat mengancam ketersediaan bambu berkualitas di masa depan.
Peluang untuk Berjaya:
- Tren “Back to Nature” dan Produk Ramah Lingkungan: Kesadaran global akan pentingnya keberlanjutan dan produk alami semakin meningkat. Anyaman bambu sangat cocok dengan tren ini, menawarkan alternatif yang estetis dan ramah lingkungan.
- Potensi Ekspor yang Besar: Pasar internasional sangat menghargai produk kerajinan tangan yang unik, otentik, dan berkelanjutan. Anyaman bambu memiliki potensi besar untuk menembus pasar global.
- Kolaborasi dengan Desainer: Menggandeng desainer produk atau interior dapat menghasilkan inovasi desain yang lebih modern, sesuai dengan selera pasar kekinian, tanpa menghilangkan esensi tradisional.
- Pemanfaatan E-commerce dan Media Sosial: Platform digital membuka gerbang pemasaran yang tak terbatas. Pengrajin atau komunitas dapat memasarkan produk mereka secara langsung ke seluruh dunia, menjangkau audiens yang lebih luas.
- Pengembangan Produk Inovatif: Dari tas, sepatu, casing ponsel, hingga komponen interior mobil, potensi inovasi produk anyaman bambu sangat luas.
- Ekowisata dan Wisata Budaya: Mengembangkan sentra anyaman bambu sebagai destinasi wisata edukasi dapat menarik wisatawan, memberikan pengalaman unik, dan meningkatkan pendapatan pengrajin.
- Dukungan Pemerintah dan Komunitas: Program pelatihan, bantuan modal, fasilitasi pameran, dan promosi dari pemerintah atau organisasi non-profit sangat penting untuk mengangkat kembali kerajinan ini.
Dengan strategi yang tepat, inovasi, dan dukungan berbagai pihak, anyaman bambu khas Jawa tidak hanya akan bertahan, tetapi juga akan berkembang dan bersinar lebih terang di kancah global.
Melestarikan Warisan Berharga: Peran Kita
Kerajinan anyaman bambu khas Jawa adalah sebuah mahakarya yang tak hanya memukau mata, tetapi juga mengandung nilai-nilai luhur dan kearifan lokal. Melestarikannya bukan hanya tugas para pengrajin atau pemerintah, melainkan tanggung jawab kita bersama sebagai pewaris budaya.
Apa yang Bisa Kita Lakukan?
- Apresiasi dan Edukasi: Pelajari sejarahnya, pahami proses pembuatannya, dan kenali nilai-nilai di baliknya. Bagikan pengetahuan ini kepada orang lain, terutama generasi muda.
- Membeli Produk Lokal: Setiap pembelian produk anyaman bambu berarti mendukung keberlanjutan ekonomi para pengrajin dan melestarikan keterampilan yang hampir punah. Pilihlah produk asli buatan tangan daripada imitasi massal.
- Mendukung Inovasi: Berikan masukan positif kepada pengrajin, dorong mereka untuk berinovasi dalam desain, dan manfaatkan platform digital untuk membantu promosi.
- Menjadi Jembatan: Jika Anda memiliki keahlian di bidang desain, pemasaran digital, atau bisnis, tawarkan bantuan atau kolaborasi kepada pengrajin.
- Berwisata ke Sentra Kerajinan: Kunjungi desa-desa pengrajin, saksikan langsung proses pembuatannya, dan rasakan atmosfer kearifan lokal. Ini juga membantu perekonomian daerah.
Kesimpulan: Simbol Ketekunan yang Abadi
Anyaman bambu khas Jawa adalah lebih dari sekadar kerajinan; ia adalah simbol ketekunan, kesabaran, kreativitas, dan hubungan harmonis manusia dengan alam. Setiap jalinan bambu mengisahkan perjalanan panjang dari hutan bambu yang rimbun, melalui jari-jari terampil seorang pengrajin, hingga menjadi sebuah karya yang bernilai seni dan fungsi.
Di tengah hiruk-pikuk dunia modern, anyaman bambu mengingatkan kita akan keindahan kesederhanaan dan kekuatan tradisi. Ia adalah bukti bahwa warisan budaya dapat terus hidup, beradaptasi, dan bahkan bersinar di era baru, asalkan ada tangan-tangan yang peduli dan jiwa-jiwa yang menghargai.
Mari kita jaga, lestarikan, dan banggakan kerajinan anyaman bambu Jawa. Karena di setiap helaan seratnya, tersimpan cerita tentang jati diri bangsa, keindahan alam Indonesia, dan semangat tak lekang oleh waktu.