MDINETWORK – Saham PT Global Mediacom Tbk (BMTR) milik Hary Tanoe kembali menunjukkan kinerja positif dengan kenaikan sebesar 2,70% pada perdagangan sesi pertama Senin (13/6/2026). Kenaikan ini mencerminkan peningkatan minat investor asing terhadap saham emiten tersebut. Data pasar menunjukkan bahwa investor asing melakukan pembelian bersih (net buy) sebanyak 16.185.400 saham pada jeda siang.
Peningkatan ini tidak terjadi secara tiba-tiba. Sebelumnya, pada periode 8-10 April 2026, saham BMTR juga menunjukkan tren positif. Dalam rentang waktu seminggu tersebut, saham ini mengalami peningkatan sebesar 10,95%, dengan investor asing mencatatkan net buy senilai Rp 6,29 miliar pada periode 4-10 April. Hal ini menunjukkan bahwa investor asing memiliki kepercayaan yang tinggi terhadap prospek BMTR.
Analisis Finansial BMTR
Meski kinerja saham BMTR terlihat positif, rasio price to book value (PBV) masih berada di angka 0,16 kali. Sementara itu, nilai buku atau book value per saham BMTR tercatat sekitar Rp 950, mendekati Rp 1.000. Selain itu, price earning ratio (PER) sebesar 3,27 kali. Angka-angka ini memberikan gambaran bahwa saham BMTR masih relatif murah dibandingkan dengan valuasi pasar.
Investor kawakan Lo Kheng Hong tercatat memiliki 6,53% saham BMTR per 31 Maret 2026. Hary Tanoesoedibjo, selaku tokoh konglomerat, merupakan pemilik manfaat akhir dari emiten tersebut. Keberadaan investor besar seperti Lo Kheng Hong menjadi indikator kuat bahwa BMTR memiliki potensi pertumbuhan yang baik.
Kinerja Keuangan Perusahaan
Sepanjang tahun 2025, BMTR berhasil membukukan laba tahun berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 770,97 miliar. Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan, yakni 43,46%, dibandingkan dengan laba sebesar Rp 537,39 miliar pada tahun 2024.
Laba per saham dasar juga mengalami peningkatan menjadi Rp 47,1 per 31 Desember 2025, dibandingkan dengan Rp 32,9 pada periode sebelumnya. Meskipun pendapatan atau omzet Global Mediacom mengalami penurunan dari Rp 10,05 triliun menjadi Rp 9,59 triliun, beban pokok pendapatan juga berkurang menjadi Rp 5,72 triliun dari sebelumnya Rp 6,01 triliun.
Laba kotor pun mengalami penurunan menjadi Rp 3,87 triliun dari Rp 4,03 triliun. Namun, laba sebelum pajak BMTR berhasil menguat menjadi Rp 1,33 triliun dari Rp 1,04 triliun karena didukung oleh lain-lain bersih Rp 358,27 miliar.
Struktur Aset dan Liabilitas BMTR
Perusahaan milik Hary Tanoesoedibjo ini mencatatkan total aset sebesar Rp 34,19 triliun, dengan liabilitas mencapai Rp 6,69 triliun dan ekuitas sebesar Rp 28,21 triliun. Struktur keuangan ini menunjukkan bahwa BMTR memiliki posisi keuangan yang stabil dan mampu menangani tekanan pasar.
Rekomendasi untuk Investor
Bagi investor yang tertarik membeli saham BMTR, penting untuk memantau perkembangan keuangan dan strategi bisnis perusahaan. Meskipun saat ini saham BMTR terlihat menarik, investor harus tetap waspada terhadap risiko pasar dan perubahan kondisi ekonomi makro.
Selain itu, investor dapat mempertimbangkan rekomendasi dari para ahli keuangan dan analis pasar. Dengan data yang tersedia, BMTR tampaknya memiliki potensi pertumbuhan yang cukup baik dalam jangka panjang.***













