MEMERANDOM.COM – Belajar Bahasa Jawa merupakan salah satu bahasa daerah terbesar di Indonesia dengan penutur mencapai lebih dari 75 juta orang. Sebagai warisan budaya yang kaya, bahasa Jawa tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga menjadi cerminan filosofi dan kearifan hidup masyarakat Jawa. Bagi Anda yang ingin mempelajari bahasa Jawa dari nol, panduan komprehensif ini akan membantu Anda memahami dasar-dasar bahasa Jawa dengan pendekatan yang sistematis dan praktis.
Mengapa Belajar Bahasa Jawa Penting di Era Modern?
Mempelajari bahasa Jawa di era globalisasi ini memiliki nilai strategis yang signifikan. Pertama, bahasa Jawa merupakan jembatan untuk memahami budaya dan tradisi Jawa yang kaya akan filosofi hidup. Kedua, dalam konteks profesional, kemampuan berbahasa Jawa dapat menjadi aset berharga, terutama bagi mereka yang bekerja atau berbisnis di wilayah Jawa.
Selain itu, bahasa Jawa juga memiliki sistem tingkat tutur yang unik dan kompleks, yang mengajarkan konsep penghormatan dan tata krama dalam berkomunikasi. Sistem ini tidak ditemukan dalam bahasa Indonesia atau bahasa asing lainnya, sehingga mempelajarinya akan memperkaya perspektif komunikasi Anda.
Dari segi akademis, bahasa Jawa juga memiliki literatur klasik yang sangat kaya, seperti Serat Wedhatama, Serat Centini, dan berbagai karya sastra yang mengandung wisdom mendalam. Memahami bahasa Jawa akan membuka akses ke khazanah pengetahuan tradisional yang tidak tergantikan.
Pengenalan Sistem Tingkat Tutur Bahasa Jawa
Sebelum mulai belajar kosakata dan tata bahasa, pemahaman tentang sistem tingkat tutur (unggah-ungguh) dalam bahasa Jawa sangatlah crucial. Sistem ini membedakan bahasa Jawa dari bahasa-bahasa lainnya dan menjadi karakteristik utama yang harus dikuasai.
Ngoko: Tingkat Tutur Rendah
Ngoko adalah tingkat tutur yang digunakan dalam situasi informal atau ketika berbicara dengan orang yang lebih muda, teman sebaya, atau orang yang sudah sangat akrab. Ngoko dibagi menjadi dua jenis:
Ngoko Lugu adalah bentuk paling sederhana dan natural dalam bahasa Jawa. Contohnya:
- “Aku arep mangan” (Saya akan makan)
- “Kowe lunga nendi?” (Kamu pergi ke mana?)
- “Dheweke turu” (Dia tidur)
Ngoko Andhap menggunakan beberapa kata krama untuk menunjukkan sedikit penghormatan. Contohnya:
- “Aku arep dhahar” (Saya akan makan – menggunakan ‘dhahar’ yang lebih halus)
- “Kowe tindak pundi?” (Kamu pergi ke mana? – menggunakan ‘tindak’ dan ‘pundi’)
Krama: Tingkat Tutur Tinggi
Krama digunakan ketika berbicara dengan orang yang lebih tua, orang yang dihormati, atau dalam situasi formal. Ada dua jenis krama:
Krama Lugu menggunakan kosakata krama tapi tidak menggunakan kata-kata keaggungan. Contohnya:
- “Kula badhe dhahar” (Saya akan makan)
- “Panjenengan tindak pundi?” (Anda pergi ke mana?)
Krama Inggil menggunakan bahasa yang paling halus dan formal, termasuk kata-kata keaggungan untuk orang yang diajak bicara. Contohnya:
- “Kula badhe dhahar” (Saya akan makan)
- “Panjenengan dalem tindak pundi?” (Anda pergi ke mana? – dengan penghormatan tinggi)
Kosakata Dasar Bahasa Jawa untuk Pemula
Kata Ganti Orang (Pronoun)
Memahami kata ganti orang adalah langkah fundamental dalam belajar bahasa Jawa karena penggunaannya berbeda-beda tergantung tingkat tutur:
Kata Ganti Orang Pertama:
- Ngoko: “aku” (saya/aku)
- Krama: “kula” (saya – lebih halus)
- Contoh: “Aku seneng banget” (Ngoko) vs “Kula seneng sanget” (Krama)
Kata Ganti Orang Kedua:
- Ngoko: “kowe” (kamu)
- Krama: “panjenengan” (Anda)
- Contoh: “Kowe sapa?” (Ngoko) vs “Panjenengan sinten?” (Krama)
Kata Ganti Orang Ketiga:
- Ngoko: “dheweke” (dia)
- Krama: “piyambakipun” (beliau)
- Contoh: “Dheweke apik” (Ngoko) vs “Piyambakipun sae” (Krama)
Kata Kerja Dasar dan Penggunaannya
Kata kerja dalam bahasa Jawa juga memiliki variasi berdasarkan tingkat tutur:
Makan:
- Ngoko: “mangan”
- Krama: “dhahar” atau “nedha”
- Contoh kalimat: “Aku wis mangan” (Saya sudah makan – Ngoko)
- “Kula sampun dhahar” (Saya sudah makan – Krama)
Pergi:
- Ngoko: “lunga”
- Krama: “tindak” atau “kesah”
- Contoh: “Aku arep lunga” (Saya akan pergi – Ngoko)
- “Kula badhe tindak” (Saya akan pergi – Krama)
Tidur:
- Ngoko: “turu”
- Krama: “tilem” atau “sare”
- Contoh: “Aku arep turu” (Saya akan tidur – Ngoko)
- “Kula badhe sare” (Saya akan tidur – Krama)
Bekerja:
- Ngoko: “nyambut gawe”
- Krama: “nyambut damel”
- Contoh: “Dheweke nyambut gawe” (Dia bekerja – Ngoko)
- “Piyambakipun nyambut damel” (Beliau bekerja – Krama)
Kata Sifat dan Penggunaannya
Kata sifat dalam bahasa Jawa juga mengikuti sistem tingkat tutur:
Baik:
- Ngoko: “apik”
- Krama: “sae”
- Contoh: “Omahmu apik banget” (Rumahmu bagus sekali – Ngoko)
- “Griyanipun sae sanget” (Rumahnya bagus sekali – Krama)
Besar:
- Ngoko: “gedhe”
- Krama: “ageng”
- Contoh: “Wit iku gedhe” (Pohon itu besar – Ngoko)
- “Wit menika ageng” (Pohon itu besar – Krama)
Kecil:
- Ngoko: “cilik”
- Krama: “alit”
- Contoh: “Anake isih cilik” (Anaknya masih kecil – Ngoko)
- “Putranipun taksih alit” (Anaknya masih kecil – Krama)
Tata Bahasa Dasar Bahasa Jawa
Struktur Kalimat Sederhana
Struktur dasar kalimat bahasa Jawa mengikuti pola Subjek-Predikat-Objek (SPO), mirip dengan bahasa Indonesia. Namun, ada flexibility dalam urutan kata yang memungkinkan variasi untuk penekanan:
Contoh Struktur SPO:
- “Aku (S) mangan (P) sega (O)” = Saya makan nasi
- “Dheweke (S) tuku (P) buku (O)” = Dia membeli buku
- “Bocah (S) dolanan (P) bal (O)” = Anak bermain bola
Variasi untuk Penekanan:
- “Sega aku mangan” = Nasi yang saya makan (menekankan objek)
- “Mangan aku sega” = Makan saya nasi (menekankan aktivitas)
Kata Tanya dalam Bahasa Jawa
Menguasai kata tanya sangat penting untuk dapat berkomunikasi aktif:
Apa (What):
- Ngoko: “apa”
- Krama: “menapa”
- Contoh: “Apa sing kokombe?” (Apa yang kamu bawa?)
- “Menapa ingkang dipunbekta?” (Apa yang dibawa?)
Siapa (Who):
- Ngoko: “sapa”
- Krama: “sinten”
- Contoh: “Sapa jenengmu?” (Siapa namamu?)
- “Sinten asmanipun?” (Siapa namanya?)
Di mana (Where):
- Ngoko: “nang nendi”
- Krama: “wonten pundi”
- Contoh: “Nang nendi omahmu?” (Di mana rumahmu?)
- “Wonten pundi griyanipun?” (Di mana rumahnya?)
Kapan (When):
- Ngoko: “kapan”
- Krama: “kapan” (sama)
- Contoh: “Kapan kowe teka?” (Kapan kamu datang?)
- “Kapan panjenengan rawuh?” (Kapan Anda datang?)
Mengapa (Why):
- Ngoko: “kenapa” atau “kok”
- Krama: “kenging menapa”
- Contoh: “Kenapa kowe ora teka?” (Mengapa kamu tidak datang?)
- “Kenging menapa panjenengan boten rawuh?” (Mengapa Anda tidak datang?)
Bagaimana (How):
- Ngoko: “kepiye”
- Krama: “kados pundi”
- Contoh: “Kepiye carane?” (Bagaimana caranya?)
- “Kados pundi caranipun?” (Bagaimana caranya?)
Kata Bilangan dan Penggunaannya
Sistem bilangan dalam bahasa Jawa memiliki keunikan tersendiri:
Angka 1-10:
- 1: siji (ngoko) / setunggal (krama)
- 2: loro (ngoko) / kalih (krama)
- 3: telu (ngoko) / tiga (krama)
- 4: papat (ngoko) / sekawan (krama)
- 5: lima (ngoko) / gangsal (krama)
- 6: enem (ngoko) / enem (krama)
- 7: pitu (ngoko) / pitu (krama)
- 8: wolu (ngoko) / wolu (krama)
- 9: sanga (ngoko) / sanga (krama)
- 10: sepuluh (ngoko) / sedasa (krama)
Contoh Penggunaan:
- “Aku duwe buku lima” (Saya punya lima buku – Ngoko)
- “Kula gadhah buku gangsal” (Saya punya lima buku – Krama)
Praktik Percakapan Dasar
Salam dan Perkenalan
Percakapan Ngoko (Informal): A: “Halo, jenengmu sapa?” B: “Jenengku Budi. Kowe sapa?” A: “Aku Sari. Seneng ketemu kowe.” B: “Iya, aku ya seneng.”
Percakapan Krama (Formal): A: “Sugeng enjing, sinten asmanipun?” B: “Asma kula Budi. Panjenengan sinten?” A: “Kula Sari. Remen kepanggih panjenengan.” B: “Inggih, kula ugi remen.”
Menanyakan Kabar
Ngoko:
- “Kepiye kabare?” (Bagaimana kabarnya?)
- “Apik, kowe kepiye?” (Baik, kamu bagaimana?)
- “Aku ya apik” (Saya juga baik)
Krama:
- “Kados pundi kabaripun?” (Bagaimana kabarnya?)
- “Sae, panjenengan kados pundi?” (Baik, Anda bagaimana?)
- “Kula ugi sae” (Saya juga baik)
Meminta Bantuan
Ngoko:
- “Bisa tulung aku ora?” (Bisa tolong saya tidak?)
- “Tulung jupukake buku iku” (Tolong ambilkan buku itu)
Krama:
- “Saged tulung kula boten?” (Bisa tolong saya tidak?)
- “Tulung pundhutaken buku menika” (Tolong ambilkan buku itu)
Latihan dan Praktik Mandiri
Latihan Kosakata Harian
Untuk menguasai bahasa Jawa dengan efektif, praktik harian sangatlah penting. Berikut beberapa metode yang dapat Anda terapkan:
Metode Substitusi: Gantikan beberapa kata bahasa Indonesia dalam percakapan sehari-hari dengan bahasa Jawa. Mulai dengan kata-kata sederhana seperti:
- “Terima kasih” → “Matur nuwun”
- “Selamat pagi” → “Sugeng enjing”
- “Permisi” → “Nuwun sewu”
Metode Labeling: Tempelkan label bahasa Jawa pada benda-benda di rumah:
- Meja → “meja” (ngoko) / “meja” (krama)
- Kursi → “kursi” (ngoko) / “lenggah” (krama)
- Pintu → “lawang” (ngoko) / “lawang” (krama)
Latihan Pembentukan Kalimat
Praktikkan pembentukan kalimat dengan pola yang berbeda:
Latihan 1: Kalimat Berita
- Buat 5 kalimat tentang aktivitas sehari-hari dalam ngoko
- Ubah ke dalam bentuk krama
- Contoh: “Aku sarapan saben esuk” → “Kula sarapan saben enjing”
Latihan 2: Kalimat Tanya
- Buat 5 pertanyaan menggunakan kata tanya yang berbeda
- Variasikan antara ngoko dan krama
- Contoh: “Kowe arep nang nendi?” → “Panjenengan badhe tindak pundi?”
Latihan 3: Kalimat Perintah
- Pelajari cara memberikan instruksi dengan sopan
- Contoh: “Lungguh kana!” (ngoko) → “Lenggah wonten mriku!” (krama)
Tips Menguasai Bahasa Jawa dengan Efektif
Immersion dalam Kehidupan Sehari-hari
Salah satu cara terbaik untuk menguasai bahasa Jawa adalah dengan menciptakan environment yang kondusif untuk belajar. Dengarkan musik Jawa tradisional atau kontemporer, tonton film atau video YouTube dalam bahasa Jawa, dan ikuti channel media sosial yang menggunakan bahasa Jawa.
Bergabunglah dengan komunitas online atau offline yang menggunakan bahasa Jawa. Banyak group Facebook, WhatsApp, atau forum online yang dedicated untuk pembelajaran bahasa Jawa. Interaksi dengan native speakers akan mempercepat proses pembelajaran Anda.
Memahami Konteks Budaya
Bahasa Jawa tidak dapat dipisahkan dari konteks budayanya. Pelajari juga tentang adat istiadat, tradisi, dan nilai-nilai budaya Jawa. Ini akan membantu Anda memahami kapan dan bagaimana menggunakan tingkat tutur yang tepat.
Pahami konsep-konsep budaya seperti “unggah-ungguh” (tata krama), “tepa selira” (empati), dan “gotong royong” (kerja sama). Pemahaman ini akan membantu Anda berkomunikasi dengan lebih natural dan appropriate.
Kesalahan Umum yang Harus Dihindari
Mixing Tingkat Tutur: Jangan mencampur ngoko dan krama dalam satu kalimat ketika berbicara dengan orang yang sama. Tentukan dari awal tingkat tutur mana yang akan digunakan dan konsisten.
Literal Translation: Hindari menerjemahkan langsung dari bahasa Indonesia ke bahasa Jawa. Setiap bahasa memiliki struktur dan idiom yang unik.
Mengabaikan Konteks: Selalu perhatikan dengan siapa Anda berbicara dan dalam situasi apa. Penggunaan tingkat tutur yang salah bisa dianggap tidak sopan.
Sumber Belajar dan Referensi Tambahan
Media Digital dan Aplikasi
Manfaatkan teknologi untuk mempercepat pembelajaran. Ada beberapa aplikasi dan website yang dapat membantu:
Kamus Online: Gunakan kamus bahasa Jawa online untuk mencari arti kata dan contoh penggunaan. Beberapa kamus juga menyediakan audio pronunciation.
Video Tutorial: Platform seperti YouTube memiliki banyak channel yang dedicated untuk pembelajaran bahasa Jawa, mulai dari level basic hingga advanced.
Podcast Bahasa Jawa: Dengarkan podcast atau audio content dalam bahasa Jawa untuk melatih kemampuan listening dan pronunciation.
Literatur dan Buku
Setelah menguasai dasar-dasar, mulailah membaca literatur bahasa Jawa sederhana. Mulai dari cerita pendek, dongeng, hingga artikel ringan. Gradually tingkatkan level kesulitan reading material Anda.
Buku-buku grammar bahasa Jawa juga sangat membantu untuk pemahaman yang lebih mendalam tentang struktur bahasa dan aturan tata bahasa yang kompleks.
Praktik dengan Native Speakers
Tidak ada yang bisa menggantikan praktik langsung dengan penutur asli. Jika Anda tinggal di daerah yang menggunakan bahasa Jawa, manfaatkan kesempatan untuk berinteraksi dengan masyarakat lokal.
Jika tidak memungkinkan, cari language exchange partner online atau bergabung dengan komunitas belajar bahasa Jawa di media sosial.
Belajar bahasa Jawa memang memerlukan dedikasi dan praktik yang konsisten, terutama karena sistem tingkat tutur yang kompleks. Namun, dengan pendekatan yang sistematis dan praktik yang teratur, Anda akan dapat menguasai bahasa Jawa dan menikmati kekayaan budaya yang terkandung di dalamnya. Ingatlah bahwa bahasa adalah jembatan untuk memahami budaya, jadi nikmatilah proses pembelajaran ini sebagai journey untuk mengenal lebih dalam warisan leluhur yang berharga. (red)