Sekaten: Menguak Tirai Sejarah, Makna, dan Kemegahan Upacara Adat di Jantung Yogyakarta

sekaten

Ketika tabuhan gamelan kuno mulai mengalun merdu dari kompleks Keraton Yogyakarta, membelah keheningan malam dan mengisi setiap sudut Alun-alun Utara, itulah penanda dimulainya sebuah perayaan agung yang ditunggu-tunggu: Sekaten. Lebih dari sekadar festival atau pasar malam biasa, Sekaten adalah sebuah mahakarya budaya yang merangkum sejarah panjang, filosofi mendalam, dan semangat kebersamaan masyarakat Jawa, khususnya di Yogyakarta. Ia adalah jembatan yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini, sebuah manifestasi hidup dari akulturasi agama dan budaya yang telah berlangsung berabad-abad.

Mari kita selami lebih dalam, menguak setiap lapis sejarah dan makna di balik kemegahan Upacara Sekaten.

I. Sekaten: Sebuah Pengantar Singkat

Sekaten, atau lebih lengkapnya Upacara Sekaten, adalah salah satu perayaan terbesar dan paling ikonik di Yogyakarta. Diselenggarakan setiap tahun untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, Sekaten bukan hanya sebuah ritual keagamaan, melainkan juga sebuah perhelatan budaya yang melibatkan seluruh elemen masyarakat. Dari alunan gamelan pusaka yang sakral, keramaian pasar malam yang memukau, hingga puncak Grebeg Mulud yang penuh berkah, setiap elemen Sekaten adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Jawa yang kaya.

Kata “Sekaten” sendiri diyakini berasal dari kata syahadatain, dua kalimat syahadat, yang merupakan pilar utama ajaran Islam. Asal-usul nama ini sudah memberi petunjuk awal bahwa upacara ini memiliki akar yang kuat dalam dakwah Islam di tanah Jawa.

II. Akar Sejarah Sekaten: Dari Dakwah Walisongo Hingga Tradisi Keraton

Untuk memahami Sekaten, kita harus menengok jauh ke belakang, pada masa penyebaran Islam di Jawa pada abad ke-15 dan ke-16. Para ulama besar yang dikenal sebagai Walisongo, terutama Sunan Kalijaga, menghadapi tantangan besar dalam mengajak masyarakat yang kala itu kental dengan kepercayaan Hindu-Buddha dan animisme untuk memeluk Islam. Mereka menyadari bahwa pendekatan yang koersif tidak akan efektif. Sebaliknya, mereka memilih jalur dakwah yang adaptif dan akulturatif, merangkul kearifan lokal dan tradisi yang sudah ada.

Salah satu metode dakwah paling brilian yang mereka ciptakan adalah dengan memanfaatkan kesenian dan budaya. Sunan Kalijaga, yang dikenal sebagai seniman ulung, menggunakan media gamelan dan wayang sebagai sarana penyebaran agama. Ia menciptakan Gamelan Sekaten yang dimainkan pada perayaan Maulid Nabi. Masyarakat yang tertarik dengan alunan musik gamelan kemudian datang berbondong-bondong ke masjid atau tempat-tempat berkumpul. Di sanalah, di tengah keramaian, para Walisongo tidak langsung mengajarkan doktrin Islam secara frontal, melainkan menyelipkan pesan-pesan moral dan ajaran tauhid melalui cerita-cerita atau wejangan yang mudah diterima.

Konon, siapa pun yang ingin menyaksikan gamelan dan mendengarkan ceramah harus bersedia mengucapkan syahadatain. Inilah mengapa nama “Sekaten” diyakini berasal dari frasa tersebut, sebagai simbol masuk Islamnya seseorang. Upacara ini menjadi magnet yang efektif untuk menarik perhatian dan hati masyarakat, memperkenalkan Islam dengan cara yang lembut dan menyenangkan.

Seiring berjalannya waktu, tradisi ini terus dilestarikan dan disempurnakan oleh penguasa kerajaan-kerajaan Islam di Jawa, termasuk Kesultanan Mataram dan kemudian Kesultanan Yogyakarta. Sultan Agung Hanyokrokusumo (1613-1645), salah satu raja terbesar Mataram, dikenal sebagai figur yang sangat berjasa dalam memformalkan dan menjadikan Sekaten sebagai upacara kenegaraan yang sakral. Di bawah naungan Keraton, Sekaten tidak hanya menjadi sarana dakwah, tetapi juga simbol kedaulatan, kemakmuran, dan kedekatan antara raja dengan rakyatnya.

III. Rangkaian Prosesi Sekaten: Sebuah Perjalanan Sakral dan Meriah

Upacara Sekaten di Yogyakarta berlangsung selama kurang lebih tujuh hari, puncaknya bertepatan dengan tanggal 12 Rabiul Awal kalender Hijriah, yaitu hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Setiap tahapan prosesinya memiliki makna dan daya tarik tersendiri:

A. Pembukaan: Gamelan Pusaka Nagawilaga dan Gunturmadu

Dimulainya Sekaten ditandai dengan keluarnya dua set gamelan pusaka milik Keraton Yogyakarta, yaitu Kyai Gunturmadu dan Kyai Nagawilaga, dari dalam Keraton. Prosesi ini disebut Miyos Gangsa. Kedua gamelan ini diarak oleh abdi dalem menuju Pagongan Lor (utara) dan Pagongan Kidul (selatan) di kompleks Masjid Agung Kauman.

Gamelan Kyai Gunturmadu ditempatkan di Pagongan Kidul, sementara Kyai Nagawilaga di Pagongan Lor. Selama seminggu penuh, dari pagi hingga malam, kedua gamelan ini akan terus-menerus ditabuh, kecuali pada waktu salat. Suara gamelan yang khas ini bukan sekadar musik; ia adalah panggilan, undangan spiritual, dan pengingat akan kelahiran Nabi. Konon, suara gamelan ini memiliki kekuatan magis untuk membersihkan jiwa dan membawa keberkahan. Masyarakat berbondong-bondong datang untuk mendengarkan alunan gamelan, bahkan ada yang menyempatkan diri mengunyah sirih (nginang) di sekitar gamelan sebagai simbol penyerahan diri dan permohonan berkah.

B. Pasar Malam Sekaten: Jantung Ekonomi dan Rekreasi Rakyat

Tidak hanya ritual sakral, Sekaten juga identik dengan kemeriahan Pasar Malam Sekaten. Sejak awal, perayaan ini selalu dibarengi dengan aktivitas perdagangan. Di masa lalu, pasar malam ini menjadi ajang bertemunya pedagang dari berbagai daerah untuk menjajakan dagangan mereka, mulai dari hasil bumi, kerajinan tangan, hingga makanan khas.

Kini, Pasar Malam Sekaten menjelma menjadi sebuah festival rakyat yang meriah. Alun-alun Utara dipenuhi dengan deretan wahana permainan modern dan tradisional, stan makanan dengan aneka kuliner khas, serta berbagai barang dagangan. Aroma jajanan seperti kerak telor, arum manis, dan gulali berpadu dengan riuhnya suara tawa dan musik. Pasar malam ini bukan hanya pusat ekonomi, tetapi juga ajang rekreasi dan silaturahmi bagi seluruh lapisan masyarakat, dari anak-anak hingga orang dewasa. Kehadirannya menunjukkan bahwa Sekaten tidak hanya milik Keraton, tetapi juga milik rakyat.

C. Prosesi Miyos Gangsa (Kembali ke Keraton)

Menjelang puncak perayaan, pada malam 12 Rabiul Awal, gamelan pusaka Kyai Gunturmadu dan Kyai Nagawilaga diarak kembali ke dalam Keraton dalam sebuah prosesi yang disebut Miyos Gangsa atau Kondur Gangsa. Prosesi ini berlangsung dengan lebih khidmat, menandakan bahwa puncak acara Grebeg Mulud akan segera tiba. Kembalinya gamelan ke Keraton juga melambangkan berakhirnya ‘panggilan’ spiritual dan dimulainya persiapan untuk upacara utama.

D. Puncak Perayaan: Grebeg Mulud dan Gunungan

Puncak kemeriahan dan kesakralan Sekaten adalah Grebeg Mulud, yang diselenggarakan pada tanggal 12 Rabiul Awal. Grebeg adalah sebuah upacara kirab budaya yang sangat megah, melibatkan ribuan abdi dalem Keraton, prajurit-prajurit tradisional dengan seragam warna-warni, serta diiringi gamelan dan panji-panji kebesaran.

Fokus utama Grebeg Mulud adalah pengeluaran Gunungan dari dalam Keraton. Gunungan adalah replika gunung berukuran besar yang tersusun dari aneka hasil bumi seperti sayur-mayur, buah-buahan, jajanan pasar, dan nasi. Ada beberapa jenis Gunungan, antara lain:

  • Gunungan Lanang (pria): Paling besar dan berisi aneka hasil bumi.
  • Gunungan Wadon (wanita): Bentuknya lebih datar dengan jajanan.
  • Gunungan Pawon (dapur): Berisi bahan makanan.
  • Gunungan Gepak: Berisi lauk pauk.
  • Gunungan Darat: Khusus untuk prajurit.

Gunungan-gunungan ini diarak dengan khidmat dari pelataran Keraton, melalui Siti Hinggil, Alun-alun Utara, dan berakhir di halaman Masjid Agung Kauman. Di sana, setelah didoakan oleh para ulama dan penghulu Keraton, Gunungan ini akan menjadi rebutan ribuan masyarakat yang sudah menanti.

Ritual “Rebutan Gunungan” adalah momen paling dinanti dan penuh euforia. Masyarakat percaya bahwa setiap bagian dari Gunungan, meskipun hanya sehelai daun atau sebutir nasi, memiliki berkah (barokah). Mereka meyakini bahwa berkah tersebut dapat membawa keberuntungan, kesehatan, dan kemakmuran dalam hidup mereka. Pemandangan ribuan orang yang berebut gunungan ini mungkin terlihat kacau, namun sejatinya adalah ekspresi kegembiraan dan keyakinan akan berkah yang dibagikan oleh Keraton sebagai simbol kemakmuran dan keberlimpahan.

IV. Makna Filosofis di Balik Kemegahan Sekaten

Sekaten bukan sekadar tontonan, melainkan sebuah pertunjukan makna yang kaya. Setiap elemennya menyimpan filosofi mendalam:

A. Dakwah Islam yang Adaptif dan Inklusif

Inti dari Sekaten adalah dakwah Islam yang cerdas. Walisongo mengajarkan bahwa Islam tidak harus menggusur budaya lokal, melainkan dapat berdialog dan berakulturasi dengannya. Sekaten adalah contoh nyata bagaimana Islam dapat diterima secara damai oleh masyarakat yang memiliki tradisi kuat, tanpa menghilangkan identitas asli mereka. Ini adalah pesan toleransi dan harmoni antarbudaya yang relevan hingga kini.

B. Simbol Harmoni Antara Agama dan Budaya

Sekaten menunjukkan betapa indahnya perpaduan antara ajaran agama Islam dengan tradisi dan kearifan lokal Jawa. Gamelan, yang merupakan seni tradisi Jawa, digunakan sebagai media dakwah. Gunungan, yang berasal dari tradisi persembahan hasil bumi, diselaraskan dengan syukuran Maulid Nabi. Ini adalah manifestasi dari sinkretisme Jawa yang unik, di mana nilai-nilai spiritual dan budaya saling memperkaya.

C. Perekat Sosial dan Ekonomi Rakyat

Pasar Malam Sekaten menjadi ruang interaksi sosial yang penting. Ia mempertemukan berbagai lapisan masyarakat, menciptakan ikatan komunal, dan memberikan kesempatan ekonomi bagi para pedagang. Tradisi Grebeg Mulud dengan rebutan gunungannya juga memperkuat rasa kebersamaan dan kegotongroyongan, di mana semua orang merasa menjadi bagian dari perayaan dan berharap akan berkah yang sama.

D. Manifestasi Kedaulatan dan Kebesaran Keraton

Sebagai penyelenggara utama, Keraton Yogyakarta menunjukkan perannya sebagai penjaga tradisi dan pusat kebudayaan. Sekaten menegaskan kembali legitimasi dan kedaulatan Sultan sebagai pemimpin spiritual dan kultural. Kehadiran abdi dalem dan prajurit dalam Grebeg Mulud menunjukkan tata kelola dan kebesaran Keraton, yang masih dihormati oleh rakyatnya.

E. Pesan Moral dan Spiritual

Di balik kemeriahan, Sekaten adalah ajang refleksi dan pengingat akan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Alunan gamelan yang terus-menerus mengajak pendengarnya untuk merenungkan kebesaran Tuhan dan ajaran-ajaran Nabi. Ritual nginang di depan gamelan melambangkan kesederhanaan dan ketulusan hati dalam mencari berkah. Seluruh rangkaian upacara adalah ajakan untuk meningkatkan ketakwaan, rasa syukur, dan mempererat tali silaturahmi.

V. Sekaten di Era Modern: Tantangan dan Relevansi

Di tengah gempuran modernisasi dan globalisasi, Sekaten tetap bertahan sebagai salah satu warisan budaya tak benda yang paling berharga. Namun, ia juga menghadapi tantangan. Komersialisasi pasar malam, perubahan minat generasi muda, serta upaya pelestarian yang berkelanjutan menjadi pekerjaan rumah bagi Keraton dan pemerintah daerah.

Meskipun demikian, Sekaten tetap relevan. Ia bukan hanya daya tarik wisata yang unik, tetapi juga penjaga identitas budaya Yogyakarta. Setiap tahun, ribuan wisatawan domestik dan mancanegara datang untuk menyaksikan kemegahan ini, menunjukkan bahwa Sekaten memiliki daya tarik universal. Bagi masyarakat Yogyakarta sendiri, Sekaten adalah penanda waktu, sebuah siklus tahunan yang dinanti-nanti, yang membawa kembali kenangan, harapan, dan rasa bangga akan warisan leluhur.

VI. Penutup: Sekaten, Jantung Budaya yang Tak Pernah Berhenti Berdetak

Dari tabuhan gamelan yang sakral hingga rebutan gunungan yang meriah, Sekaten adalah cermin dari kebesaran budaya Jawa yang mampu beradaptasi tanpa kehilangan esensinya. Ia adalah bukti nyata bagaimana agama dan budaya dapat bersatu membentuk sebuah tradisi yang kuat dan lestari.

Sekaten lebih dari sekadar upacara adat; ia adalah sebuah living tradition, sebuah jantung budaya Yogyakarta yang terus berdetak, memompa semangat kebersamaan, nilai-nilai spiritual, dan kekayaan sejarah kepada setiap generasi. Ia mengajarkan kita tentang toleransi, adaptasi, dan pentingnya menjaga warisan leluhur demi masa depan yang berakar pada masa lalu. Maka, ketika gamelan Sekaten kembali mengalun, itu bukan hanya sebuah pertanda perayaan, melainkan sebuah undangan untuk merasakan denyut nadi kebudayaan Jawa yang abadi.

Exit mobile version